Minggu, 15 April 2012

LANDASAN LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


PENDAHULUAN
            Pembentukan kurikulum pendidikan islam harus mengacu kepada arah realisasi individu dalam masyarakat, karena dengan demikian semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan akan terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia harus mendapatkan tempat dalam kurikulum pendidikan islam dengan kata lain manusia mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.
            Tugas kurikulum dalam perspektif  islam diharapkan turut serta dalam proses kemasyarakatan terhadap siswa, penyesuaian mereka dengan lingkungannya, pengetahuan dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya.  Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat lainnya, karena adanya perbedaan sistem sosial budaya lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada. Kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budaya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.[1]








PEMBAHASAN
LANDASAN-LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan kurikulum pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai landasa-landasan kurikulum.
A.    LANDASAN FILOSOFIS

Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom).[2] Sehingga dengan belajar Filsafat seseorang itu berharap agar bisa berbuat dan berfikir secara bijak, namun dalam berfikir bijak haruslah memiliki ilmu Pengetahuan.Berfilsafat diartikan sebagai pemikiran yang radikal, sampai pada ke akar-akarnya. Secara akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.[3]Fillsafat membahas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini, baik masalah sosial, alam dan termasuk juga pendidikan.
Filsafat pendidikan yang dikemukakan oleh Romine adalah sesuatu yang sangat penting, karena mengandung keyakinan yang berupa serangkaian cita-cita dan nilai-nilai yang sangat baik menurut pandangan masyarakat.[4]
Dari pernyatan-pernyatan diatas, faktor –faktor yang harus diperhatikan ketika merancang atau mengembangkan sebuah kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri adalah dengan pandangan Filsafat, karena cara berfikir Filsafat itu suatu pemikiran yang mendalam, yang bijak dan banyak pertimbangan sehingga memperhatikan norma-norma sekitar. Disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan pada saat itu. Filsafat pendidikan bertujuan untuk mengarahkan misi dari sekolah atau lembaga pendidikan, untuk mengembangkan aturan-aturan yang harus dijalankan dalam proses pendidikan. Pendidikan merupakan interaksi antar manusia. Yang melibatkan beberapa aspek yakni pendidik, peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi atau bagaimana proses pendidikan itu berlangsung. Salah satunya adalah penetapan kurikulum. Filsafat adalah salah satu kunci dalam penetapan atau perancangan kurikulum.
Dalam dunia pendidikan terdapat falsafah pendidikan, pada umunya terdapat empat falsafah yaitu;
1.      Rekonstruksisme
Menurut Hilda Taba, John Dewey, rekonstruksisme mengikuti sebuah alur, yang meyakini dan mengemukakan bahwa keberadaan sekolah adalah untuk adanya perbaikan dalam masyarakat.
Theodore Brameld mengemukakan nilai-nilai rekonstruksisme, yaitu banyaknya orang yang menginginkan hal-hal sebagai berikut;
·         Makanan yang cukup
·         Pakaian yang cukup
·         Perlindungan dan kebebasan
·         Kebutuhan seksual dan pelayanan
·         Jiwa dan mental yang sehat
·         Rekan kerja dan bisnis
·         Persahabatan, saling setia dan kepribadian
·         Partisipasi dan tukar pikiran serta
·         Pengertian, perintah dan tujuan.
Beberapa pendidik setuju bahwa pemuda harus memiliki tantangan dan masalah sosial, ekonomi dan politik, serta berusaha untuk mencapai mufakat dalam mencari solusi. Tujuan utama dari falsafah ini adalah untuk menjadikan sekolah sebagai agen utama dalam perubahan sosial.[5] Dalam filsafat Dewey ini, kebenaran terletak pada perbuatan, yaitu adanya persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.[6]
2.      Perenialisme
Perenialisme sekuler mendukung kurikulum sebuah akademi dengan tata bahasa, kepandaian berbicara, logika, bahasa lama dan baru, matematika dan peradaban dunia. menurut M. Hutchins pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran. Dan pendidikan yang disempurnakan untuk  kebutuhan yang mendesak, bukanlah sebuah spendidikan ynag bermanfaat. Pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran.[7]
Jadi perenialisme ini lebih mengedepankan kepada pengembangan intelektual individu itu sendiri, sehingga bisa dipergunakan untuk mengolah kemampuan yang terdapat pada dirinya. Seperti kemampuan tata bahasa, tata bicara, kepandaian bernalar dan kemampuan dalam memahami peradaban dunia.
3.      Esensialisme
Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya. Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sebaliknya esensialisme menghindari hal tersebut.[8] Esensialis menitik beratkan pada kemampuan mendaur ulang apa yang telah dipelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan ditarget sebagai persuapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja, dan kehidupan.
4.      Progresif
Menyatakan bahwa anak harus memahami pengelaman pendidikan “di sini” dan “sekarang”, mempunyai filosofi “pendidikan adalah hidup” dan “belajar dengan melakukan”. Para progresivis mendorong sekolah agar menyediakan pelajaran bagi setiap individu yang berbeda, baik dalam mental, fisik, emosi, spiritual dan perbedaan sosial.


B.     LANDASAN PSIKOLOGIS

Psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku-prilaku tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.[9]

Setiap individu memiliki karekteristik psikologi yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Hal itu disebabkan karena latar belakang sosial yang berbeda, tahap perkembangan, faktor hereditas dan keturunan. Interaksi yang terjadi antara guru dengan peserta didik harus disesuaikan dengan psikologis peserta didik. Interaksi pendidikan yang terjadi di rumah berbeda dengan interaksi yang terjadi disekolah. Interaksi antara guru dengan siswa SD, berbeda dengan interaksi guru dengan siswa SMP, dan siswa SMA. Tergantung dari keadaan psikologis dari peserta didik tersebut.Guru dalam proses pendidikan harus optimal dalam mendidik peserta didik. Tanpa pendidikan disekolah sebenarnya anak akan tetap bisa berkembang, namun berbeda ketika pendidikannya dalam jenjang sekolah, anak lebih berwawasan luas dan tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi. Karena ketika berada disekolah seorang guru harus benar-benar melakukan interaksi pengajaran sesuai dengan keadaan psikologis pesrta didik.

Ada dua bidang psikologi yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum yakni Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar.
1.      Psikologi Perkembangan
Psikologi Perkembangan membahas tentang perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai pada dewasa.
Dalam pengembangan kurikulum salah satu yang mendasari adalah Psikologi Perkembangan.Yang mana sejak peserta didik mengenyam pendidikan disekolah. Ada dua pendekatan dalam hal ini
·         Pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan fisik dan gerakan motorik, sosial, intelektual, moral, religi, emosional dan sebagainya.
·         Pedekatan khusus yang hanya mencakup satu aspek perkembangan saja.

2.      Psikologi Belajar

Bidang kajian Psikologi Belajar ini mencakup perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak. Sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan maupun pemecahan masalah. Pendidik atau guru melakukan beberapa upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar mengajar mana yang dapat memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses pelaksanaannya membutuhkan studi yang sistematik dan mendalam.
Sangat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Dari segi proses belajar mengajar, misalnya suatu metode yang dipandang cocok bagi sekelompok individu siswa, belum tentu cocok bagi kelompok lain. Demikian pula, suatu metode yang digunakan oleh seorang guru, mungkin dapat efektif, tetapi di tangan guru lain menjadi tidak efektif.[10]

C.     LANDASAN SOSIAL BUDAYA, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
a.      Perkembangan Masyarakat
Salah satu cri masyarakat adalah selalu berkembang. Perekembangan suatu masyarakat tidak sama ada yang cepat ada yang lamban, tergantung dari pengaruh perkembangan teknologi, terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi telekomunikasi, dan elektronik. Dewasa ini beberapa masyarakat di suatu daerah mayoritas berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global.[11]
Dampak dari keadaan masyarakat yang demikian, membawa perubahan besar bagi, mobilitas manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar dan akurat. Perubahan-perubahan yang seperti ini mempengaruhi pengetahuan, kecakapan sikap, aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola hidup mereka.
1.      Perubahan pola pekerjaaan
Pengaruh dari semakin berkembangnya IPTEK( Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), membawa dampak bagi pola hidup masyarakat dalam bekerja, seperti yang asalnya berpola agraris, yakni pola hidup yang santai, teratur, memiliki toleran yang tinggi, perubahan yang lamban dan sebagainya. Berubah menjadi pola hidup industri, yakni penerapan teknologi dalam mayoritas bidang pekerjaan, karena adanya teknologi maka bidang pekerjaan yang bergerak dibidang industri lebih maju dari pada bidang pertanian. Dan menuntut profesionalisme yang tinggi pula. Kelebihan bidang industri ini antara lain yakni, bekerja tidak lagi bergantung pada musim. Baik musim hujan, kemarau atau panas. Kita bisa bekerja sepanjang masa, bahkan bekerja siang dan malam tanpa henti.[12]

2.      Perubahan peranan wanita
Seiring dengan berkembangnya zaman, dahulu seorang wanita yang hanya duduk dirumah, mengurusi suami, anak dan rumahnya. Namun hal itu sudah sangatlah jarang, seorang wanita yang berpendidikan mempunyai tingkat sejajar dengan seorang laki-laki dalam bidang pekerjaan. Wanita bisa berkarya, berekspresi sesuai dengan skill yang mereka miliki.
Dalam keadaan yang demikian, ada beberapa hal yang menjadi kendala;
·         Beban tanggung jawab yang ia emban semakin bertambah, selain mengurusi rumah tangga ia juga harus berkarir. Sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Bisa jadi salah satunya akan terbengkalai.
·         Namun berkaitan dengan kehidupan kelurga. Meskipun setinggi apapun tingkat pendidikan seorang wanita. Ia harus mengurusi rumah tangganya, karena jika hanya konsen pada karir. Rumah tangganya akan terbengkalai. Pendidikan anak menjadi tidak maksimal, perhatiannya terpecah dan sebagainya.
·         Kemudian situasi pekerjaan. Pekerjaan atau karir bukan tempat beristirahat namun tetap berkarya, berekspresi dan berprestasi. Situasi yang demikian ini, menuntut untuk seorang pegawai harus bekerja secara optimal. Namun jika seorang wanita sudah berkelurga, maka dalam pekerjaannya kurang maksimal. Berbeda ketika ia masih belum mempunyai tanggungan untuk mengurusi keluarga, maka dalam berkarir ia akan optimal.

3.      Perubahan kehidupan keluarga

Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat. [13]Seorang suami dan istri yang sama-sama bekerja dibidang industri, membutuhkan waktu yang melebihi batas kerja pada umumnya. Yang biasanya bekerja sampai pukul 14.00, namun bisa saja smpai pukul 23.00. Bahkan yang biasanya hari Minggu digunakan sebagai hari libur bersama keluarga. Terkadang masih saja dibuat bekerja, sehingga waktu untuk berkumpul bersama keluarga  tidak ada. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan, kurang harmonisnya sebuah keluarga. Antara suami, istri, dan anak komunikasinya tidak lancar, bahkan mungkin anak lebih sering berkumpul dengan pembantu Rumah Tangga, dari pada dengan orang tua mereka yang bekerja tanpa hentinya. Dampak dalam segi Ekonomis memang seimbang dengan hasil kerja keras, namun dampak keharmonisan keluarga yang akan terancam.[14]

b.      Pendidikan
Dalam masyarakat, unsur pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Pendidikan adalah aktivitas dari kebudayaan dan merupakan aktivitas pembudayaan, di sisi lain kebudayaan menjelmakan aktivitas, sistem, dan struktur pendidikan. Oleh karena itu, baik masyarakat tradisonal maupun modern selalu mengandung unsur pendidikan yang berusaha memperkenalkan dan membawa masyarakat ke arah kebudayaannya. Pendidikan menjadi suatu instrumen untuk mentransmisikan kebudayaan pada masyarakat dan generasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifat menggenarasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifatmengawetkan kebudayaan, sehingga mencetak generasi-generasi muda yang memiliki budaya/kental akan budaya.[15]
Dapat dikatakan bahwa, pendidikan merupakan jembatan dalam pencapaian menjadi masyarakat yang berbudaya. Seperti yang kita ketahui bahwa, dewasa ini masyarakat Indonesia mayoritas mengikuti budaya barat. Dan itu biasanya terjadi dikalangan masyarakat yang memiliki ekonomi menengah keatas. Disinilah fungsi pendidikan itu dijalankan, pendidikan harus bisa mengantarkan generasi muda nenuju budaya yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tidak mengimitasi budaya orang yang memang bertolak belakang dengan budaya kita.

c.       Politik
Setiap masyarakat, baik modern maupun primitif, sangat membutuhkan adanya institusi politik. Perbedannya, terletak dalam landasan dan pelaksanaannya. Dimensi politik adalah dimensi kelakuan politik masyarakat tertentu yang mengarahkan, mengatur dan mengontrol perbuatan manusia dalam masyarakat tersebut. proses politisasi masyarakat tersebut merupakan ekspresi masyarakat itu sendiri, dan sistem politik yang dianut oleh masyarakat tersebut akan mempengaruhi kehidupan berbudaya masyarakat yang bersangkutan.[16]
Ada hal yang perlu kita garis bawahi dalam pernyataan diatas bahwa. Perbedaan politik terletak pada landasan dan pelaksanaanya, salah satu hasil pencetusan politik adalah terciptanya pancasila sebagai dasar negara, namun yang menjadi pertanyaan di benak kita masing-masing adalah, tentang pelaksanaannya. Kita laksanakan sesuai dengan aturan aturan yang dibenarkan oleh agama. Atau dalam pelaksanaanya kita halalkan segala cara. Inilah fungsi dar kurikulum untuk menuju tujuan pendidikan yang dicita-citakan yakni politik yang bersih.


d.      Ekonomi
Kehidupan ekonomi pada dasarnya berpangkal pada kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Kehidupan ekonomi yang baik ialah sistem ekonomi yang dipergunakan bagi masyarakat luas. Oleh karenanya, masalah ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, fungsional dan struktural.[17]
      Manusia dalam proses kehidupan tak lepas dari ekonomi. Semakin tinggi tingkat kebutuhan, maka semakin tinggi pula tingkat perekonomian yang harus diperoleh dan dicapai, dalam kehidupan yang serba modern ini, sangat diperlukan ekonomi yang memadai. Oleh karenanya dalam bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari maka diperlukan kerja keras. Dan dalam pencapaian pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka diperlukan pendidikan sebagai  alat untuk proses pencapaian itu.
e.       Agama
Dari sudut kebudayaan, agam memberikan konsep tersusun tentang apa-apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, hal yang menghilangkan kecemasan manusia yang timbul karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan manusia menyelami apa-apa yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin dapat memahami masyarakat tanpa memahami keyakinan beragamanya (Maurice Boyd, 1968)[18]
Seluruh sistem di masyarakat termasuk sistem pendidikan, harus menempatkan tujuan dan kurikulam pada agama islam atau syariat islam. Yang berkaitan dengan akidah, ibadat, muamalat dan hubungan-hubungan di masyarakat. Dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam seluruh tingkatan pendidikan secara umum memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sehingga setelah proses pendidikan berakhir peserta didik bisa mengamalkan dalam kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara.[19]
      Kurikulum yang berdasarkan pada agama islam haruslah bertujuan untuk membina iman yang kuat kepada allah, rasul, malaikat, kitab-kitab, qadha qadar, dan hari akhir. Dan juga melengkapinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Karena islam tidak membatasi mempelajari ilmu apapun, selagi ilmu tersebut berguna dan berlaku dalam akidah dan akhlak.[20]

f.       Teknologi
Teknologi adalah hasil produksi dari kebudayaan dan menjadi kebudayaan. Dapat juga dikatakan bahwa teknologi adalah aspek materil dari kebudayaan. Teknologi merupakan alat atau benda-benda yang diperlukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Ada pula yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi justru menandai kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa.[21]
Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak manusia.[22]
Perkembangan yang begitu cepat dewasa ini adalah perkembangan teknologi transportasi, teknologi komunikasi, informatika, serta teknologi media cetak. Perekembangan  teknologi industri transportasi berkembang pesat, baik transportasi darat, laut maupun udara.
Temuan-temuan di bidang Fisika, kimia dan matematika mengembangkan teknologi ruang angkasa dan kemiliteran. Perkembangan teknologi di bidang kemiliteran bukan hanya menghasilkan teknologi senjata-senjata biasa, juga teknologi senjata mutakhir.
Teknologi yang juga berkembang pada dekade terakhir ini adalah teknologi komunikasi, informatika, telekomunikasi. Teknologi ini berkembang sangat pesat berkat temuan-temuan dibidang elektronika. Perekembangan radio televisi, handphone, komputer dan lain sebagainya, telah membuka bagian bagian-bagian dunia yang terbelakang menjadi daerah terbuka karena arus informasi, dan bisa dikatakan menjadi daerah modern.[23]
Indonesia, seperti negere-negara yang sedang berkembang lainnya, telah membuka pintu masuknya teknologi modern, baik yang datang dari barat maupun datang dari timur. Meskipun demikian, terdapat juga kewaspadaan tertentu, dalam artian penerapan teknologi yang baru tersebut senantiasa dicoba dikaitkan dengan situasi dan kebutuhan serta nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Masuknya teknologi baru sering kali menyebabkan gangguan, atau munculnya berbagai aspek negatif yang menimbulkan permasalahan sosial baru yang tidak diharapkan. Apakah teknologi modern kelak akan menguasai kehidupan masyarakat kita serta mengganggu keseimbangan kurtural dalam masyarakat nantinya.
Adapun beberapa fungsi sistem pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan bagi kepentingan masyarakat dari segi sosiologisnya  antara lain:
a.       Mengadakan perbaikan bahkan perombakan sosial.
b.      Mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.
c.       Mendukung dan turut memberi sumbangan kepada pembanguna nasional.
d.      Menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional.
e.       Mengarahkan dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.
f.       Mendorong dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g.      Mendidik generasi muda menjadi warga negara nasional dan warga dunia.
h.      Mengajarkan keterampilan pokok seperti membaca, menulis dan berhitung.
i.        Memberikan keterampilan dasar bertalian dengan mata pencaharian.[24]
                       
Dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dalam masyarakat yang turut memberi tekanan tentang apa yang arus dimasukan ke dalam kurikulum. Berikut adalah faktor yang menentukannya:
a)  Interaksi yang kompleks antara kekuatan-kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, industri, dan kultural dalam masyarakat.
b) Kekuatan tersebut di atas yang dominan di bagian dunia lainnya yang erat hubungannya dengan negara bersangkutan.
c)  Pribadi pimpinan serta tokoh-tokoh yang memegang peran kekuasaan formal dan informal di berbagai lampiran masyarakat.



KESIMPULAN

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita ketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan tetapi memberikan bekal pengetahuan keterampilan sera nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan kita tidak membutuhkan manusia yang asing dan lain. Tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan dapat mencetak masyarakat yang bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.           
Para pengembangan kurikulum dengan demikian dihadapkan pada tugas untuk:
a)      Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang, peraturan, dan keputusan masyarakat.
b)      Menganalisis masyarakat tempat sekolah berada.
c)      Menganalisis syarat dan ketentuan terhadap tenaga kerja.
d)     Menginterprestasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.[25]
                        Jadi keputusan akhir mengenai kurikulum itu tergantung pada pengembangan kurikulum tempat mereka hidup, kemudian bagaimana mereka berkreasi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat dan juga oleh falsafah hidup atau falsafah pendidikannya.



[1]Armai arif, pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam, (jakarta: ciputat press, 2002)  h.  34
[2] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 39
[3] Ibid, h. 39
[4] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 60
[5] Ibid, h. 62
[6] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h.40
[7] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 63
[8] Ibid, h. 63
[9] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 45
[10] Drs. H. Muhammad Ali, M. Pd., M. A, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Sinar baru algensindo; Bandung; 2009) h. 21
[11] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 61
[12] Ibid h. 61
[13] Ibid h. 62
[14] Ibid h. 63
[15] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 88
[16] Ibid. h. 89
[17] Ibid h. 90
[18] Ibid h. 92
[19]Abdul Rahman Saleh, Pendidikan Agama Dan Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), 92
[20]Nik Haryati, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2011), 24
[21] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 93
[22] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h 67
[23] Ibid h. 68-69
[24]Nik haryati, pengembangan kurikulum pendidikan agama islam........,46-47
[25]Syafrudin Nurdin, Guru Profesinal Dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta, Ciputat Press, 2003), h. 38
PENDAHULUAN
            Pembentukan kurikulum pendidikan islam harus mengacu kepada arah realisasi individu dalam masyarakat, karena dengan demikian semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan akan terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia harus mendapatkan tempat dalam kurikulum pendidikan islam dengan kata lain manusia mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.
            Tugas kurikulum dalam perspektif  islam diharapkan turut serta dalam proses kemasyarakatan terhadap siswa, penyesuaian mereka dengan lingkungannya, pengetahuan dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya.  Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat lainnya, karena adanya perbedaan sistem sosial budaya lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada. Kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budaya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.[1]








PEMBAHASAN
LANDASAN-LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan kurikulum pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai landasa-landasan kurikulum.
A.    LANDASAN FILOSOFIS

Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom).[2] Sehingga dengan belajar Filsafat seseorang itu berharap agar bisa berbuat dan berfikir secara bijak, namun dalam berfikir bijak haruslah memiliki ilmu Pengetahuan.Berfilsafat diartikan sebagai pemikiran yang radikal, sampai pada ke akar-akarnya. Secara akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.[3]Fillsafat membahas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini, baik masalah sosial, alam dan termasuk juga pendidikan.
Filsafat pendidikan yang dikemukakan oleh Romine adalah sesuatu yang sangat penting, karena mengandung keyakinan yang berupa serangkaian cita-cita dan nilai-nilai yang sangat baik menurut pandangan masyarakat.[4]
Dari pernyatan-pernyatan diatas, faktor –faktor yang harus diperhatikan ketika merancang atau mengembangkan sebuah kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri adalah dengan pandangan Filsafat, karena cara berfikir Filsafat itu suatu pemikiran yang mendalam, yang bijak dan banyak pertimbangan sehingga memperhatikan norma-norma sekitar. Disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan pada saat itu. Filsafat pendidikan bertujuan untuk mengarahkan misi dari sekolah atau lembaga pendidikan, untuk mengembangkan aturan-aturan yang harus dijalankan dalam proses pendidikan. Pendidikan merupakan interaksi antar manusia. Yang melibatkan beberapa aspek yakni pendidik, peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi atau bagaimana proses pendidikan itu berlangsung. Salah satunya adalah penetapan kurikulum. Filsafat adalah salah satu kunci dalam penetapan atau perancangan kurikulum.
Dalam dunia pendidikan terdapat falsafah pendidikan, pada umunya terdapat empat falsafah yaitu;
1.      Rekonstruksisme
Menurut Hilda Taba, John Dewey, rekonstruksisme mengikuti sebuah alur, yang meyakini dan mengemukakan bahwa keberadaan sekolah adalah untuk adanya perbaikan dalam masyarakat.
Theodore Brameld mengemukakan nilai-nilai rekonstruksisme, yaitu banyaknya orang yang menginginkan hal-hal sebagai berikut;
·         Makanan yang cukup
·         Pakaian yang cukup
·         Perlindungan dan kebebasan
·         Kebutuhan seksual dan pelayanan
·         Jiwa dan mental yang sehat
·         Rekan kerja dan bisnis
·         Persahabatan, saling setia dan kepribadian
·         Partisipasi dan tukar pikiran serta
·         Pengertian, perintah dan tujuan.
Beberapa pendidik setuju bahwa pemuda harus memiliki tantangan dan masalah sosial, ekonomi dan politik, serta berusaha untuk mencapai mufakat dalam mencari solusi. Tujuan utama dari falsafah ini adalah untuk menjadikan sekolah sebagai agen utama dalam perubahan sosial.[5] Dalam filsafat Dewey ini, kebenaran terletak pada perbuatan, yaitu adanya persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.[6]
2.      Perenialisme
Perenialisme sekuler mendukung kurikulum sebuah akademi dengan tata bahasa, kepandaian berbicara, logika, bahasa lama dan baru, matematika dan peradaban dunia. menurut M. Hutchins pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran. Dan pendidikan yang disempurnakan untuk  kebutuhan yang mendesak, bukanlah sebuah spendidikan ynag bermanfaat. Pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran.[7]
Jadi perenialisme ini lebih mengedepankan kepada pengembangan intelektual individu itu sendiri, sehingga bisa dipergunakan untuk mengolah kemampuan yang terdapat pada dirinya. Seperti kemampuan tata bahasa, tata bicara, kepandaian bernalar dan kemampuan dalam memahami peradaban dunia.
3.      Esensialisme
Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya. Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sebaliknya esensialisme menghindari hal tersebut.[8] Esensialis menitik beratkan pada kemampuan mendaur ulang apa yang telah dipelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan ditarget sebagai persuapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja, dan kehidupan.
4.      Progresif
Menyatakan bahwa anak harus memahami pengelaman pendidikan “di sini” dan “sekarang”, mempunyai filosofi “pendidikan adalah hidup” dan “belajar dengan melakukan”. Para progresivis mendorong sekolah agar menyediakan pelajaran bagi setiap individu yang berbeda, baik dalam mental, fisik, emosi, spiritual dan perbedaan sosial.


B.     LANDASAN PSIKOLOGIS

Psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku-prilaku tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.[9]

Setiap individu memiliki karekteristij psikologi yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Hal itu disebabkan karena latar belakang sosial yang berbeda, tahap perkembangan, faktor hereditas dan keturunan. Interaksi yang terjadi antara guru dengan peserta didik harus disesuaikan dengan psikologis peserta didik. Interaksi pendidikan yang terjadi di rumah berbeda dengan interaksi yang terjadi disekolah. Interaksi antara guru dengan siswa SD, berbeda dengan interaksi guru dengan siswa SMP, dan siswa SMA. Tergantung dari keadaan psikologis dari peserta didik tersebut.Guru dalam proses pendidikan harus optimal dalam mendidik peserta didik. Tanpa pendidikan disekolah sebenarnya anak akan tetap bisa berkembang, namun berbeda ketika pendidikannya dalam jenjang sekolah, anak lebih berwawasan luas dan tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi. Karena ketika berada disekolah seorang guru harus benar-benar melakukan interaksi pengajaran sesuai dengan keadaan psikologis pesrta didik.

Ada dua bidang psikologi yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum yakni Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar.
1.      Psikologi Perkembangan
Psikologi Perkembangan membahas tentang perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai pada dewasa.
Dalam pengembangan kurikulum salah satu yang mendasari adalah Psikologi Perkembangan.Yang mana sejak peserta didik mengenyam pendidikan disekolah. Ada dua pendekatan dalam hal ini
·         Pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan fisik dan gerakan motorik, sosial, intelektual, moral, religi, emosional dan sebagainya.
·         Pedekatan khusus yang hanya mencakup satu aspek perkembangan saja.

2.      Psikologi Belajar

Bidang kajian Psikologi Belajar ini mencakup perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak. Sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan maupun pemecahan masalah. Pendidik atau guru melakukan beberapa upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar mengajar mana yang dapat memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses pelaksanaannya membutuhkan studi yang sistematik dan mendalam.
Sangat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Dari segi proses belajar mengajar, misalnya suatu metode yang dipandang cocok bagi sekelompok individu siswa, belum tentu cocok bagi kelompok lain. Demikian pula, suatu metode yang digunakan oleh seorang guru, mungkin dapat efektif, tetapi di tangan guru lain menjadi tidak efektif.[10]

C.     LANDASAN SOSIAL BUDAYA, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
a.      Perkembangan Masyarakat
Salah satu cri masyarakat adalah selalu berkembang. Perekembangan suatu masyarakat tidak sama ada yang cepat ada yang lamban, tergantung dari pengaruh perkembangan teknologi, terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi telekomunikasi, dan elektronik. Dewasa ini beberapa masyarakat di suatu daerah mayoritas berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global.[11]
Dampak dari keadaan masyarakat yang demikian, membawa perubahan besar bagi, mobilitas manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar dan akurat. Perubahan-perubahan yang seperti ini mempengaruhi pengetahuan, kecakapan sikap, aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola hidup mereka.
1.      Perubahan pola pekerjaaan
Pengaruh dari semakin berkembangnya IPTEK( Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), membawa dampak bagi pola hidup masyarakat dalam bekerja, seperti yang asalnya berpola agraris, yakni pola hidup yang santai, teratur, memiliki toleran yang tinggi, perubahan yang lamban dan sebagainya. Berubah menjadi pola hidup industri, yakni penerapan teknologi dalam mayoritas bidang pekerjaan, karena adanya teknologi maka bidang pekerjaan yang bergerak dibidang industri lebih maju dari pada bidang pertanian. Dan menuntut profesionalisme yang tinggi pula. Kelebihan bidang industri ini antara lain yakni, bekerja tidak lagi bergantung pada musim. Baik musim hujan, kemarau atau panas. Kita bisa bekerja sepanjang masa, bahkan bekerja siang dan malam tanpa henti.[12]

2.      Perubahan peranan wanita
Seiring dengan berkembangnya zaman, dahulu seorang wanita yang hanya duduk dirumah, mengurusi suami, anak dan rumahnya. Namun hal itu sudah sangatlah jarang, seorang wanita yang berpendidikan mempunyai tingkat sejajar dengan seorang laki-laki dalam bidang pekerjaan. Wanita bisa berkarya, berekspresi sesuai dengan skill yang mereka miliki.
Dalam keadaan yang demikian, ada beberapa hal yang menjadi kendala;
·         Beban tanggung jawab yang ia emban semakin bertambah, selain mengurusi rumah tangga ia juga harus berkarir. Sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Bisa jadi salah satunya akan terbengkalai.
·         Namun berkaitan dengan kehidupan kelurga. Meskipun setinggi apapun tingkat pendidikan seorang wanita. Ia harus mengurusi rumah tangganya, karena jika hanya konsen pada karir. Rumah tangganya akan terbengkalai. Pendidikan anak menjadi tidak maksimal, perhatiannya terpecah dan sebagainya.
·         Kemudian situasi pekerjaan. Pekerjaan atau karir bukan tempat beristirahat namun tetap berkarya, berekspresi dan berprestasi. Situasi yang demikian ini, menuntut untuk seorang pegawai harus bekerja secara optimal. Namun jika seorang wanita sudah berkelurga, maka dalam pekerjaannya kurang maksimal. Berbeda ketika ia masih belum mempunyai tanggungan untuk mengurusi keluarga, maka dalam berkarir ia akan optimal.

3.      Perubahan kehidupan keluarga

Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat. [13]Seorang suami dan istri yang sama-sama bekerja dibidang industri, membutuhkan waktu yang melebihi batas kerja pada umumnya. Yang biasanya bekerja sampai pukul 14.00, namun bisa saja smpai pukul 23.00. Bahkan yang biasanya hari Minggu digunakan sebagai hari libur bersama keluarga. Terkadang masih saja dibuat bekerja, sehingga waktu untuk berkumpul bersama keluarga  tidak ada. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan, kurang harmonisnya sebuah keluarga. Antara suami, istri, dan anak komunikasinya tidak lancar, bahkan mungkin anak lebih sering berkumpul dengan pembantu Rumah Tangga, dari pada dengan orang tua mereka yang bekerja tanpa hentinya. Dampak dalam segi Ekonomis memang seimbang dengan hasil kerja keras, namun dampak keharmonisan keluarga yang akan terancam.[14]

b.      Pendidikan
Dalam masyarakat, unsur pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Pendidikan adalah aktivitas dari kebudayaan dan merupakan aktivitas pembudayaan, di sisi lain kebudayaan menjelmakan aktivitas, sistem, dan struktur pendidikan. Oleh karena itu, baik masyarakat tradisonal maupun modern selalu mengandung unsur pendidikan yang berusaha memperkenalkan dan membawa masyarakat ke arah kebudayaannya. Pendidikan menjadi suatu instrumen untuk mentransmisikan kebudayaan pada masyarakat dan generasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifat menggenarasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifatmengawetkan kebudayaan, sehingga mencetak generasi-generasi muda yang memiliki budaya/kental akan budaya.[15]
Dapat dikatakan bahwa, pendidikan merupakan jembatan dalam pencapaian menjadi masyarakat yang berbudaya. Seperti yang kita ketahui bahwa, dewasa ini masyarakat Indonesia mayoritas mengikuti budaya barat. Dan itu biasanya terjadi dikalangan masyarakat yang memiliki ekonomi menengah keatas. Disinilah fungsi pendidikan itu dijalankan, pendidikan harus bisa mengantarkan generasi muda nenuju budaya yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tidak mengimitasi budaya orang yang memang bertolak belakang dengan budaya kita.

c.       Politik
Setiap masyarakat, baik modern maupun primitif, sangat membutuhkan adanya institusi politik. Perbedannya, terletak dalam landasan dan pelaksanaannya. Dimensi politik adalah dimensi kelakuan politik masyarakat tertentu yang mengarahkan, mengatur dan mengontrol perbuatan manusia dalam masyarakat tersebut. proses politisasi masyarakat tersebut merupakan ekspresi masyarakat itu sendiri, dan sistem politik yang dianut oleh masyarakat tersebut akan mempengaruhi kehidupan berbudaya masyarakat yang bersangkutan.[16]
Ada hal yang perlu kita garis bawahi dalam pernyataan diatas bahwa. Perbedaan politik terletak pada landasan dan pelaksanaanya, salah satu hasil pencetusan politik adalah terciptanya pancasila sebagai dasar negara, namun yang menjadi pertanyaan di benak kita masing-masing adalah, tentang pelaksanaannya. Kita laksanakan sesuai dengan aturan aturan yang dibenarkan oleh agama. Atau dalam pelaksanaanya kita halalkan segala cara. Inilah fungsi dar kurikulum untuk menuju tujuan pendidikan yang dicita-citakan yakni politik yang bersih.


d.      Ekonomi
Kehidupan ekonomi pada dasarnya berpangkal pada kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Kehidupan ekonomi yang baik ialah sistem ekonomi yang dipergunakan bagi masyarakat luas. Oleh karenanya, masalah ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, fungsional dan struktural.[17]
      Manusia dalam proses kehidupan tak lepas dari ekonomi. Semakin tinggi tingkat kebutuhan, maka semakin tinggi pula tingkat perekonomian yang harus diperoleh dan dicapai, dalam kehidupan yang serba modern ini, sangat diperlukan ekonomi yang memadai. Oleh karenanya dalam bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari maka diperlukan kerja keras. Dan dalam pencapaian pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka diperlukan pendidikan sebagai  alat untuk proses pencapaian itu.
e.       Agama
Dari sudut kebudayaan, agam memberikan konsep tersusun tentang apa-apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, hal yang menghilangkan kecemasan manusia yang timbul karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan manusia menyelami apa-apa yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin dapat memahami masyarakat tanpa memahami keyakinan beragamanya (Maurice Boyd, 1968)[18]
Seluruh sistem di masyarakat termasuk sistem pendidikan, harus menempatkan tujuan dan kurikulam pada agama islam atau syariat islam. Yang berkaitan dengan akidah, ibadat, muamalat dan hubungan-hubungan di masyarakat. Dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam seluruh tingkatan pendidikan secara umum memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sehingga setelah proses pendidikan berakhir peserta didik bisa mengamalkan dalam kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara.[19]
      Kurikulum yang berdasarkan pada agama islam haruslah bertujuan untuk membina iman yang kuat kepada allah, rasul, malaikat, kitab-kitab, qadha qadar, dan hari akhir. Dan juga melengkapinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Karena islam tidak membatasi mempelajari ilmu apapun, selagi ilmu tersebut berguna dan berlaku dalam akidah dan akhlak.[20]

f.       Teknologi
Teknologi adalah hasil produksi dari kebud`yaan dan menjadi kebudayaan. Dapat juga dikatakan bahwa teknologi adalah aspek materil dari kebudayaan. Teknologi merupakan alat atau benda-benda yang diperlukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Ada pula yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi justru menandai kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa.[21]
Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak manusia.[22]
Perkembangan yang begitu cepat dewasa ini adalah perkembangan teknologi transportasi, teknologi komunikasi, informatika, serta teknologi media cetak. Perekembangan  teknologi industri transportasi berkembang pesat, baik transportasi darat, laut maupun udara.
Temuan-temuan di bidang Fisika, kimia dan matematika mengembangkan teknologi ruang angkasa dan kemiliteran. Perkembangan teknologi di bidang kemiliteran bukan hanya menghasilkan teknologi senjata-senjata biasa, juga teknologi senjata mutakhir.
Teknologi yang juga berkembang pada dekade terakhir ini adalah teknologi komunikasi, informatika, telekomunikasi. Teknologi ini berkembang sangat pesat berkat temuan-temuan dibidang elektronika. Perekembangan radio televisi, handphone, komputer dan lain sebagainya, telah membuka bagian bagian-bagian dunia yang terbelakang menjadi daerah terbuka karena arus informasi, dan bisa dikatakan menjadi daerah modern.[23]
Indonesia, seperti negere-negara yang sedang berkembang lainnya, telah membuka pintu masuknya teknologi modern, baik yang datang dari barat maupun datang dari timur. Meskipun demikian, terdapat juga kewaspadaan tertentu, dalam artian penerapan teknologi yang baru tersebut senantiasa dicoba dikaitkan dengan situasi dan kebutuhan serta nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Masuknya teknologi baru sering kali menyebabkan gangguan, atau munculnya berbagai aspek negatif yang menimbulkan permasalahan sosial baru yang tidak diharapkan. Apakah teknologi modern kelak akan menguasai kehidupan masyarakat kita serta mengganggu keseimbangan kurtural dalam masyarakat nantinya.
Adapun beberapa fungsi sistem pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan bagi kepentingan masyarakat dari segi sosiologisnya  antara lain:
a.       Mengadakan perbaikan bahkan perombakan sosial.
b.      Mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.
c.       Mendukung dan turut memberi sumbangan kepada pembanguna nasional.
d.      Menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional.
e.       Mengarahkan dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.
f.       Mendorong dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g.      Mendidik generasi muda menjadi warga negara nasional dan warga dunia.
h.      Mengajarkan keterampilan pokok seperti membaca, menulis dan berhitung.
i.        Memberikan keterampilan dasar bertalian dengan mata pencaharian.[24]
                       
Dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dalam masyarakat yang turut memberi tekanan tentang apa yang arus dimasukan ke dalam kurikulum. Berikut adalah faktor yang menentukannya:
a)  Interaksi yang kompleks antara kekuatan-kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, industri, dan kultural dalam masyarakat.
b) Kekuatan tersebut di atas yang dominan di bagian dunia lainnya yang erat hubungannya dengan negara bersangkutan.
c)  Pribadi pimpinan serta tokoh-tokoh yang memegang peran kekuasaan formal dan informal di berbagai lampiran masyarakat.



KESIMPULAN

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita ketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan tetapi memberikan bekal pengetahuan keterampilan sera nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan kita tidak membutuhkan manusia yang asing dan lain. Tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan dapat mencetak masyarakat yang bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.           
Para pengembangan kurikulum dengan demikian dihadapkan pada tugas untuk:
a)      Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang, peraturan, dan keputusan masyarakat.
b)      Menganalisis masyarakat tempat sekolah berada.
c)      Menganalisis syarat dan ketentuan terhadap tenaga kerja.
d)     Menginterprestasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.[25]
                        Jadi keputusan akhir mengenai kurikulum itu tergantung pada pengembangan kurikulum tempat mereka hidup, kemudian bagaimana mereka berkreasi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat dan juga oleh falsafah hidup atau falsafah pendidikannya.



[1]Armai arif, pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam, (jakarta: ciputat press, 2002)  h.  34
[2] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 39
[3] Ibid, h. 39
[4] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 60
[5] Ibid, h. 62
[6] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h.40
[7] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 63
[8] Ibid, h. 63
[9] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 45
[10] Drs. H. Muhammad Ali, M. Pd., M. A, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Sinar baru algensindo; Bandung; 2009) h. 21
[11] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h. 61
[12] Ibid h. 61
[13] Ibid h. 62
[14] Ibid h. 63
[15] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 88
[16] Ibid. h. 89
[17] Ibid h. 90
[18] Ibid h. 92
[19]Abdul Rahman Saleh, Pendidikan Agama Dan Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), 92
[20]Nik Haryati, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2011), 24
[21] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 93
[22] Prof. DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya; Bandung; 1997) h 67
[23] Ibid h. 68-69
[24]Nik haryati, pengembangan kurikulum pendidikan agama islam........,46-47
[25]Syafrudin Nurdin, Guru Profesinal Dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta, Ciputat Press, 2003), h. 38

Tidak ada komentar:

Posting Komentar