tak kan pernah ada yang tahu prsaanq saat ini...
Tuhan hanya kau yang tahu, aku mnyayngi mrka smua ...
tak ada yang q anggap musuh, kebaikan klian smua takkan prnah trlupa,...
pda dasarnya smua orang punya sisi negatif dan positif,...
punya klbhna dan kkurangan....
tak ada musuh bagiku, tak ada lawan bagiku ,...
aku bukanlah mnausia smpurna, yang bisa mncaci, mncbir, aku ini hnya bagai stetes embun...
Rabu, 18 April 2012
Senin, 16 April 2012
arti persahabatan..
persahabatan ibarat spsang mata, bila satu berkedip maka akan berkedip pula mata itu. jika satu mata menitihkan airmata maka tetesan air mata itupun akan jatuh pada mata mata satunya. juga ibarat sepasang tangan apabila satu tangan tak mampu mengusap rintihan air mata itu, tangan satunya pun akan senantiasa membantu tanpa ada pamrih sedikitpun :),,
Minggu, 15 April 2012
Lintas Senyuman
Kalian seakan melihat hiasan senyuman dalam raut harapan
ini
Taukah kalian saat hati ini menjerit, menangis, kadang pula
hingga merasakan sakit
Berpuluh tahun aku memendam, berpuluh tahun aku menahan
Hingga kadang ku merasa tak sanggup tuk bertahan
Doa selalu ku
panjatkan, yang kadang ku merasa malu karena terus memohon
Namun aku tersadar, aku tak sendiri dan akan selalu ada
yang melindungi
KAU khalikQ, kau pancarkan sinar untukQ
KAU mengelilingiQ dengan kelembutan kasih sayang keluargaQ
Dan KAU pilihkan Q makhluk setiaMU
Q pasrahkan jiwa ragaku padaMU Ya Rabb . . .
Jadikan aq wanita dalam selimut keridhoanMU. . .
By; Nd
Juli 2011
resensi Deskriptif
MENGUNGKAP KEBENARAN MESKI NYAWA MELAYANG
Meskipun ancaman silih berganti datang kepada Veronica
Guerin, keadaan keluarga yang juga terancam, namun usahanya untuk mengungkap
skandal skandal itu terus ia gencarkan demi terungkapnya sebuah kebenaran
Film ini berdasarkan kisah nyata
seorang wartawan handal. Veronica Guerin itulah nama sang jurnalis; sesosok
wanita dewasa, berambut pirang pendek, dan memiliki postur tubuh tinggi
semampai. bisa dibilang dia bukan hanya seorang jurnalis biasa. keberaniannya dalam mengungkap skandal, bahkan nyawapun taruhannya.
Cerita ini berawal dari kasus
pereadaran heroin yang dialami oleh sekitar 15000 jiwa sebagai korbannya. Disuatu tempat seperti gedung bersusun yang
semua penghuninya adalah pecandu berat heroin, bahkan yang menjadi korbannya
adalah anak anak di bawah umur. setiap
harinya pengedar menjual obat terlarang tersebut kepada penghuni gedung
bersusun itu.
Veronica Guerin tidak tinggal
diam. Dia mendatangi gedung tersebut dan mewawancarai beberapa pecandu tersebut. Menanyai cara mendapatkan obat obat
terlarang itu dan siapa siapa saja yang terlibat dalam pengedaran obat obat
terlarang. Dia tidak hanya sekali mendatangi gedung bersusun tersebut. Bahkan
ia membentuk sebuah gerakan kecil untuk berdemo didepan rumah salah satu
pengedar tersebut yakni Martin Cahill.
Untuk mendapatkan keterangan yang
lengkap tentang kasus itu, Veronica mendekati salah seorang dari anak buah
Martin yakni John Traynor; seorang pria berambut agak panjang dan berbadan
besar. Dia menggali informasi sebanyak banyaknya dari laki laki itu. John
mengatakan bahwa Martin Cahill adalah salah satu bos besarnya. Veronica memuat
berita itu di koran “Sunday Independent”.
Berita tersebut ternyata berdampak buruk pada
kehidupannya. saat Veronica,suami, serta anaknya berkumpul dalam rumah yang
sederhana dan nyaman itu, tiba tiba ada pistol mengenai kaca rumah Veronica
Guerin. Hal itu membuat keluarga Veronica cemas. sehingga suami Veronica
menyuruhnya untuk berbhenti menjadi seorang jurnalist politik. Namun sang jurnalist sejati itu tidak pernah mundur. Ia
ingin terus membela kebenaran meskipun nyawa taruhannya .
Dampak berlanjut. Veronica yang tak kenal
menyerah terus mecari kebenaran, termasuk mengusut kasus kematian Martin
Cahill. Mengetahui hal itu, Mr..... yang
khawatir terungkap namanya, langsung memerintahkan kepada anak buahnya untuk
memberikan ancaman lebih keras kepada Veronica. Ketika Veronica bersiap siap
menghadiri pesta natal bersama keluarganya, Peluru itu tetanam pada kaki
veronica.
Seusai peristiwa penembakan di
kaki Veronica, media-media pun berlomba-lomba memuat peristiwa tersebut.
Sehinfga berita yang diusut Veronica menjadi lebih terkenal di masyarakat. Hal itu membuat pelaku-pelaku pengedar heroin
khawatir.
Tulisan Veronica tidak selalu berjalan mulus
dan mendapati sumber-sumber yang jujur.pasalnya ia ditipu oleh John Trainor
yang menjadi sumber terpercayanya saat mencari tahu tentang tentang siapa
pelopor dibalik kematian Martin Cahill. Berita bohong dari John Traino ialah
dalang dibalik pembunuhan tersebut adalah Gerry Hutch, seorang perdana mentri. Karena
John Traynor dianggapnya sebagai sumber terpercaya, Veronica langsung
memberitakannya di Sunday independent. Salah seorang kepercayaan Gerry Hutch
mendatangi kantor percetakan Sunday Independent, dan berdalih bahwa hal yang
tetulis itu adalah fitnah yang tak bertanggung jawab. Veronica dihubungi oleh
pemilik Sunday Independent dan memberikan teguran keras, karena tidak menyelidiki
kasus itu secara cermat. Sehingga
membuat citra orang lain buruk. Hal ini menjadi pelajaran bagi veronica untuk
tidak mudah percaya pada orang lain.
Tak berhenti di situ. Kali ini ia
mencari tau berdasarkan data data perusahaan perkudaan yang dimiliki oleh John
Gilligan, dari hasil penelusuran yang dilakukan Veronica. Ia mendatangi rumah
Gilligan untuk diwawancarai, namun ia
mendapat pukulan hinnga berdarah.
Veronica tetap tak bergeming. Ia
masih menulusuri dan memberitakan skandal tersebut. Beberapa minggu setelah
kesembuhannya, Veronica di bunuh saat
mengendarai mobil dengan tembakan berulang ulang oleh anak buah Mr Gilligtan.
Seluruh media massa memuat pemberitaan
tentang kematian sang Jurnalis handal; Veronica Guerin. Imbasnya begitu besar. Skandal heroin serta korupsi itu terungkap. Seluruh
aset yang dimiliki Mr Gilligan di sita polisi dan ia diringkus ke penjara dan
dikenakan hukuman 28 tahun.
Tampak jelas dari film tersebut,
seorang yang membela kebenaran demi terungkapnya seluruh skandal negara. Meski
nyawa terancam, Veronica tetap tak menyerah. Sungguh ironis, jika hal itu juga terjadi
diseluruh negara termasuk Indonesia. Kebenaran haruslah terungkap dan kejahatan
haruslah dibasmi. itu adalah misi sang jurnalis sejati itu,Veronica Guerin.
LANDASAN LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDAHULUAN
Pembentukan kurikulum pendidikan
islam harus mengacu kepada arah realisasi individu dalam masyarakat, karena
dengan demikian semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan akan terjadi
dalam perkembangan masyarakat manusia harus mendapatkan tempat dalam kurikulum
pendidikan islam dengan kata lain manusia mampu mengambil peran dalam
masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.
Tugas kurikulum dalam perspektif islam diharapkan turut serta dalam proses
kemasyarakatan terhadap siswa, penyesuaian mereka dengan lingkungannya,
pengetahuan dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi
disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan dalam
suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat lainnya, karena
adanya perbedaan sistem sosial budaya lingkungan alam, serta sarana dan
prasarana yang ada. Kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan
kekayaan budaya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.[1]
PEMBAHASAN
LANDASAN-LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan
kurikulum pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau
merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan.
Berikut ini
akan dijelaskan mengenai landasa-landasan kurikulum.
A.
LANDASAN
FILOSOFIS
Secara harfiah filosofis (filsafat)
berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom).[2]
Sehingga dengan belajar Filsafat seseorang itu berharap agar bisa berbuat dan
berfikir secara bijak, namun dalam berfikir bijak haruslah memiliki ilmu
Pengetahuan.Berfilsafat diartikan sebagai pemikiran yang radikal, sampai pada ke
akar-akarnya. Secara akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan
menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam
semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.[3]Fillsafat
membahas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini, baik masalah sosial, alam
dan termasuk juga pendidikan.
Filsafat pendidikan yang dikemukakan
oleh Romine adalah sesuatu yang sangat penting, karena mengandung keyakinan
yang berupa serangkaian cita-cita dan nilai-nilai yang sangat baik menurut
pandangan masyarakat.[4]
Dari pernyatan-pernyatan diatas, faktor –faktor yang harus
diperhatikan ketika merancang atau mengembangkan sebuah kurikulum untuk
mencapai tujuan pendidikan itu sendiri adalah dengan pandangan Filsafat, karena
cara berfikir Filsafat itu suatu pemikiran yang mendalam, yang bijak dan banyak
pertimbangan sehingga memperhatikan norma-norma sekitar. Disesuaikan dengan
kebutuhan pendidikan pada saat itu. Filsafat pendidikan bertujuan untuk
mengarahkan misi dari sekolah atau lembaga pendidikan, untuk mengembangkan
aturan-aturan yang harus dijalankan dalam proses pendidikan. Pendidikan
merupakan interaksi antar manusia. Yang melibatkan beberapa aspek yakni
pendidik, peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi
tersebut terlibat isi atau bagaimana proses pendidikan itu berlangsung. Salah
satunya adalah penetapan kurikulum. Filsafat adalah salah satu kunci dalam
penetapan atau perancangan kurikulum.
Dalam dunia pendidikan terdapat
falsafah pendidikan, pada umunya terdapat empat falsafah yaitu;
1.
Rekonstruksisme
Menurut Hilda Taba, John Dewey, rekonstruksisme mengikuti sebuah
alur, yang meyakini dan mengemukakan bahwa keberadaan sekolah adalah untuk
adanya perbaikan dalam masyarakat.
Theodore Brameld mengemukakan nilai-nilai rekonstruksisme, yaitu
banyaknya orang yang menginginkan hal-hal sebagai berikut;
·
Makanan
yang cukup
·
Pakaian
yang cukup
·
Perlindungan
dan kebebasan
·
Kebutuhan
seksual dan pelayanan
·
Jiwa
dan mental yang sehat
·
Rekan
kerja dan bisnis
·
Persahabatan,
saling setia dan kepribadian
·
Partisipasi
dan tukar pikiran serta
·
Pengertian,
perintah dan tujuan.
Beberapa pendidik setuju bahwa pemuda harus memiliki tantangan dan
masalah sosial, ekonomi dan politik, serta berusaha untuk mencapai mufakat
dalam mencari solusi. Tujuan utama dari falsafah ini adalah untuk menjadikan
sekolah sebagai agen utama dalam perubahan sosial.[5]
Dalam filsafat Dewey ini, kebenaran terletak pada perbuatan, yaitu adanya
persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.[6]
2.
Perenialisme
Perenialisme sekuler mendukung kurikulum sebuah akademi dengan tata
bahasa, kepandaian berbicara, logika, bahasa lama dan baru, matematika dan
peradaban dunia. menurut M. Hutchins pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan
yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran. Dan pendidikan yang disempurnakan
untuk kebutuhan yang mendesak, bukanlah
sebuah spendidikan ynag bermanfaat. Pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan
yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran.[7]
Jadi perenialisme ini lebih mengedepankan kepada pengembangan intelektual
individu itu sendiri, sehingga bisa dipergunakan untuk mengolah kemampuan yang
terdapat pada dirinya. Seperti kemampuan tata bahasa, tata bicara, kepandaian
bernalar dan kemampuan dalam memahami peradaban dunia.
3.
Esensialisme
Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya.
Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sebaliknya
esensialisme menghindari hal tersebut.[8]
Esensialis menitik beratkan pada kemampuan mendaur ulang apa yang telah
dipelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan ditarget sebagai
persuapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja,
dan kehidupan.
4.
Progresif
Menyatakan bahwa anak harus memahami pengelaman pendidikan “di
sini” dan “sekarang”, mempunyai filosofi “pendidikan adalah hidup” dan “belajar
dengan melakukan”. Para progresivis mendorong sekolah agar menyediakan
pelajaran bagi setiap individu yang berbeda, baik dalam mental, fisik, emosi,
spiritual dan perbedaan sosial.
B.
LANDASAN
PSIKOLOGIS
Psikologis merupakan
karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam
berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku-prilaku
tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak
maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.[9]
Setiap individu memiliki
karekteristik psikologi yang berbeda antara individu yang satu dengan yang
lainnya. Hal itu disebabkan karena latar belakang sosial yang berbeda, tahap
perkembangan, faktor hereditas dan keturunan. Interaksi yang terjadi antara guru
dengan peserta didik harus disesuaikan dengan psikologis peserta didik.
Interaksi pendidikan yang terjadi di rumah berbeda dengan interaksi yang
terjadi disekolah. Interaksi antara guru dengan siswa SD, berbeda dengan
interaksi guru dengan siswa SMP, dan siswa SMA. Tergantung dari keadaan
psikologis dari peserta didik tersebut.Guru dalam proses pendidikan harus
optimal dalam mendidik peserta didik. Tanpa pendidikan disekolah sebenarnya
anak akan tetap bisa berkembang, namun berbeda ketika pendidikannya dalam
jenjang sekolah, anak lebih berwawasan luas dan tahap perkembangannya menjadi
lebih tinggi. Karena ketika berada disekolah seorang guru harus benar-benar
melakukan interaksi pengajaran sesuai dengan keadaan psikologis pesrta didik.
Ada dua bidang psikologi yang
menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum yakni Psikologi Perkembangan dan Psikologi
Belajar.
1.
Psikologi
Perkembangan
Psikologi Perkembangan membahas tentang perkembangan individu sejak
masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai pada
dewasa.
Dalam pengembangan kurikulum salah satu yang mendasari adalah
Psikologi Perkembangan.Yang mana sejak peserta didik mengenyam pendidikan
disekolah. Ada dua pendekatan dalam hal ini
·
Pendekatan
yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan fisik dan gerakan
motorik, sosial, intelektual, moral, religi, emosional dan sebagainya.
·
Pedekatan
khusus yang hanya mencakup satu aspek perkembangan saja.
2.
Psikologi
Belajar
Bidang kajian Psikologi Belajar ini mencakup perkembangan atau
kemajuan-kemajuan yang dialami anak. Sebagian besar terjadi karena usaha
belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan,
pemahaman, penerapan maupun pemecahan masalah. Pendidik atau guru melakukan
beberapa upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan dukungan berbagai alat
bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar mengajar mana yang dapat
memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses pelaksanaannya
membutuhkan studi yang sistematik dan mendalam.
Sangat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
Dari segi proses belajar mengajar, misalnya suatu metode yang dipandang cocok
bagi sekelompok individu siswa, belum tentu cocok bagi kelompok lain. Demikian
pula, suatu metode yang digunakan oleh seorang guru, mungkin dapat efektif,
tetapi di tangan guru lain menjadi tidak efektif.[10]
C.
LANDASAN
SOSIAL BUDAYA, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
a.
Perkembangan Masyarakat
Salah satu cri
masyarakat adalah selalu berkembang. Perekembangan suatu masyarakat tidak sama
ada yang cepat ada yang lamban, tergantung dari pengaruh perkembangan teknologi,
terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi telekomunikasi, dan
elektronik. Dewasa ini beberapa masyarakat di suatu daerah mayoritas berkembang
sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global.[11]
Dampak dari
keadaan masyarakat yang demikian, membawa perubahan besar bagi, mobilitas
manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar dan akurat. Perubahan-perubahan
yang seperti ini mempengaruhi pengetahuan, kecakapan sikap, aspirasi, minat,
semangat, kebiasaan bahkan pola hidup mereka.
1.
Perubahan
pola pekerjaaan
Pengaruh dari semakin berkembangnya IPTEK( Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi), membawa dampak bagi pola hidup masyarakat dalam bekerja, seperti
yang asalnya berpola agraris, yakni pola hidup yang santai, teratur, memiliki
toleran yang tinggi, perubahan yang lamban dan sebagainya. Berubah menjadi pola
hidup industri, yakni penerapan teknologi dalam mayoritas bidang pekerjaan,
karena adanya teknologi maka bidang pekerjaan yang bergerak dibidang industri
lebih maju dari pada bidang pertanian. Dan menuntut profesionalisme yang tinggi
pula. Kelebihan bidang industri ini antara lain yakni, bekerja tidak lagi
bergantung pada musim. Baik musim hujan, kemarau atau panas. Kita bisa bekerja
sepanjang masa, bahkan bekerja siang dan malam tanpa henti.[12]
2.
Perubahan
peranan wanita
Seiring dengan
berkembangnya zaman, dahulu seorang wanita yang hanya duduk dirumah, mengurusi
suami, anak dan rumahnya. Namun hal itu sudah sangatlah jarang, seorang wanita
yang berpendidikan mempunyai tingkat sejajar dengan seorang laki-laki dalam
bidang pekerjaan. Wanita bisa berkarya, berekspresi sesuai dengan skill yang
mereka miliki.
Dalam keadaan yang demikian, ada beberapa hal yang menjadi kendala;
·
Beban
tanggung jawab yang ia emban semakin bertambah, selain mengurusi rumah tangga
ia juga harus berkarir. Sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra dalam menjalani
aktifitas sehari-hari. Bisa jadi salah satunya akan terbengkalai.
·
Namun
berkaitan dengan kehidupan kelurga. Meskipun setinggi apapun tingkat pendidikan
seorang wanita. Ia harus mengurusi rumah tangganya, karena jika hanya konsen
pada karir. Rumah tangganya akan terbengkalai. Pendidikan anak menjadi tidak
maksimal, perhatiannya terpecah dan sebagainya.
·
Kemudian
situasi pekerjaan. Pekerjaan atau karir bukan tempat beristirahat namun tetap
berkarya, berekspresi dan berprestasi. Situasi yang demikian ini, menuntut
untuk seorang pegawai harus bekerja secara optimal. Namun jika seorang wanita
sudah berkelurga, maka dalam pekerjaannya kurang maksimal. Berbeda ketika ia
masih belum mempunyai tanggungan untuk mengurusi keluarga, maka dalam berkarir
ia akan optimal.
3.
Perubahan
kehidupan keluarga
Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan
masyarakat. [13]Seorang
suami dan istri yang sama-sama bekerja dibidang industri, membutuhkan waktu
yang melebihi batas kerja pada umumnya. Yang biasanya bekerja sampai pukul
14.00, namun bisa saja smpai pukul 23.00. Bahkan yang biasanya hari Minggu
digunakan sebagai hari libur bersama keluarga. Terkadang masih saja dibuat
bekerja, sehingga waktu untuk berkumpul bersama keluarga tidak ada. Itulah salah satu faktor yang
menyebabkan, kurang harmonisnya sebuah keluarga. Antara suami, istri, dan anak
komunikasinya tidak lancar, bahkan mungkin anak lebih sering berkumpul dengan
pembantu Rumah Tangga, dari pada dengan orang tua mereka yang bekerja tanpa
hentinya. Dampak dalam segi Ekonomis memang seimbang dengan hasil kerja keras,
namun dampak keharmonisan keluarga yang akan terancam.[14]
b.
Pendidikan
Dalam masyarakat, unsur pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal
yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Pendidikan adalah aktivitas
dari kebudayaan dan merupakan aktivitas pembudayaan, di sisi lain kebudayaan
menjelmakan aktivitas, sistem, dan struktur pendidikan. Oleh karena itu, baik
masyarakat tradisonal maupun modern selalu mengandung unsur pendidikan yang
berusaha memperkenalkan dan membawa masyarakat ke arah kebudayaannya.
Pendidikan menjadi suatu instrumen untuk mentransmisikan kebudayaan pada
masyarakat dan generasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifat menggenarasi
baru. Selain itu, pendidikan juga bersifatmengawetkan kebudayaan, sehingga
mencetak generasi-generasi muda yang memiliki budaya/kental akan budaya.[15]
Dapat dikatakan bahwa, pendidikan merupakan jembatan dalam
pencapaian menjadi masyarakat yang berbudaya. Seperti yang kita ketahui bahwa,
dewasa ini masyarakat Indonesia mayoritas mengikuti budaya barat. Dan itu
biasanya terjadi dikalangan masyarakat yang memiliki ekonomi menengah keatas.
Disinilah fungsi pendidikan itu dijalankan, pendidikan harus bisa mengantarkan
generasi muda nenuju budaya yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tidak
mengimitasi budaya orang yang memang bertolak belakang dengan budaya kita.
c.
Politik
Setiap
masyarakat, baik modern maupun primitif, sangat membutuhkan adanya institusi
politik. Perbedannya, terletak dalam landasan dan pelaksanaannya. Dimensi
politik adalah dimensi kelakuan politik masyarakat tertentu yang mengarahkan,
mengatur dan mengontrol perbuatan manusia dalam masyarakat tersebut. proses
politisasi masyarakat tersebut merupakan ekspresi masyarakat itu sendiri, dan
sistem politik yang dianut oleh masyarakat tersebut akan mempengaruhi kehidupan
berbudaya masyarakat yang bersangkutan.[16]
Ada hal yang perlu kita garis bawahi dalam pernyataan diatas bahwa.
Perbedaan politik terletak pada landasan dan pelaksanaanya, salah satu hasil
pencetusan politik adalah terciptanya pancasila sebagai dasar negara, namun
yang menjadi pertanyaan di benak kita masing-masing adalah, tentang
pelaksanaannya. Kita laksanakan sesuai dengan aturan aturan yang dibenarkan
oleh agama. Atau dalam pelaksanaanya kita halalkan segala cara. Inilah fungsi
dar kurikulum untuk menuju tujuan pendidikan yang dicita-citakan yakni politik
yang bersih.
d.
Ekonomi
Kehidupan ekonomi pada dasarnya berpangkal pada kegiatan produksi,
distribusi dan konsumsi. Kehidupan ekonomi yang baik ialah sistem ekonomi yang
dipergunakan bagi masyarakat luas. Oleh karenanya, masalah ekonomi tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sosial, fungsional dan struktural.[17]
Manusia dalam proses kehidupan tak lepas
dari ekonomi. Semakin tinggi tingkat kebutuhan, maka semakin tinggi pula
tingkat perekonomian yang harus diperoleh dan dicapai, dalam kehidupan yang
serba modern ini, sangat diperlukan ekonomi yang memadai. Oleh karenanya dalam
bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari maka diperlukan kerja keras. Dan dalam
pencapaian pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka diperlukan
pendidikan sebagai alat untuk proses
pencapaian itu.
e.
Agama
Dari sudut kebudayaan, agam memberikan konsep tersusun tentang
apa-apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, hal yang menghilangkan
kecemasan manusia yang timbul karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan manusia
menyelami apa-apa yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin
dapat memahami masyarakat tanpa memahami keyakinan beragamanya (Maurice Boyd,
1968)[18]
Seluruh sistem di masyarakat termasuk sistem pendidikan, harus
menempatkan tujuan dan kurikulam pada agama islam atau syariat islam. Yang
berkaitan dengan akidah, ibadat, muamalat dan hubungan-hubungan di masyarakat.
Dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam seluruh tingkatan pendidikan secara umum memiliki tujuan yang
sama yaitu untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sehingga
setelah proses pendidikan berakhir peserta didik bisa mengamalkan dalam
kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara.[19]
Kurikulum yang berdasarkan pada agama
islam haruslah bertujuan untuk membina iman yang kuat kepada allah, rasul,
malaikat, kitab-kitab, qadha qadar, dan hari akhir. Dan juga melengkapinya
dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Karena islam tidak
membatasi mempelajari ilmu apapun, selagi ilmu tersebut berguna dan berlaku dalam
akidah dan akhlak.[20]
f.
Teknologi
Teknologi
adalah hasil produksi dari kebudayaan dan menjadi kebudayaan. Dapat juga
dikatakan bahwa teknologi adalah aspek materil dari kebudayaan. Teknologi
merupakan alat atau benda-benda yang diperlukan oleh masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya. Ada pula yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi justru menandai
kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa.[21]
Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang,
memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak
manusia.[22]
Perkembangan yang begitu cepat dewasa ini adalah perkembangan
teknologi transportasi, teknologi komunikasi, informatika, serta teknologi
media cetak. Perekembangan teknologi
industri transportasi berkembang pesat, baik transportasi darat, laut maupun
udara.
Temuan-temuan di bidang Fisika, kimia dan matematika mengembangkan
teknologi ruang angkasa dan kemiliteran. Perkembangan teknologi di bidang kemiliteran
bukan hanya menghasilkan teknologi senjata-senjata biasa, juga teknologi
senjata mutakhir.
Teknologi yang juga berkembang pada dekade terakhir ini adalah
teknologi komunikasi, informatika, telekomunikasi. Teknologi ini berkembang
sangat pesat berkat temuan-temuan dibidang elektronika. Perekembangan radio
televisi, handphone, komputer dan lain sebagainya, telah membuka bagian
bagian-bagian dunia yang terbelakang menjadi daerah terbuka karena arus
informasi, dan bisa dikatakan menjadi daerah modern.[23]
Indonesia, seperti negere-negara yang sedang berkembang lainnya,
telah membuka pintu masuknya teknologi modern, baik yang datang dari barat
maupun datang dari timur. Meskipun demikian, terdapat juga kewaspadaan
tertentu, dalam artian penerapan teknologi yang baru tersebut senantiasa dicoba
dikaitkan dengan situasi dan kebutuhan serta nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat. Masuknya teknologi baru sering kali menyebabkan gangguan, atau
munculnya berbagai aspek negatif yang menimbulkan permasalahan sosial baru yang
tidak diharapkan. Apakah teknologi modern kelak akan menguasai kehidupan
masyarakat kita serta mengganggu keseimbangan kurtural dalam masyarakat
nantinya.
Adapun
beberapa fungsi sistem pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan bagi
kepentingan masyarakat dari segi sosiologisnya
antara lain:
a. Mengadakan
perbaikan bahkan perombakan sosial.
b. Mempertahankan
kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.
c. Mendukung
dan turut memberi sumbangan kepada pembanguna nasional.
d. Menyampaikan
kebudayaan dan nilai-nilai tradisional.
e. Mengarahkan
dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.
f. Mendorong
dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g. Mendidik
generasi muda menjadi warga negara nasional dan warga dunia.
h. Mengajarkan
keterampilan pokok seperti membaca, menulis dan berhitung.
i.
Memberikan
keterampilan dasar bertalian dengan mata pencaharian.[24]
Dan
masih banyak lagi faktor-faktor lain dalam masyarakat yang turut memberi
tekanan tentang apa yang arus dimasukan ke dalam kurikulum. Berikut adalah
faktor yang menentukannya:
a) Interaksi
yang kompleks antara kekuatan-kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer,
industri, dan kultural dalam masyarakat.
b) Kekuatan
tersebut di atas yang dominan di bagian dunia lainnya yang erat hubungannya
dengan negara bersangkutan.
c) Pribadi
pimpinan serta tokoh-tokoh yang memegang peran kekuasaan formal dan informal di
berbagai lampiran masyarakat.
KESIMPULAN
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kita ketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke
lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan tetapi
memberikan bekal pengetahuan keterampilan sera nilai-nilai untuk hidup, bekerja
dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari
masyarakat mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan
masyarakat. Masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi
landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan kita tidak membutuhkan manusia yang asing dan
lain. Tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan dapat mencetak masyarakat yang
bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu tujuan,
isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik,
kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.
a) Mempelajari
dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang,
peraturan, dan keputusan masyarakat.
b) Menganalisis
masyarakat tempat sekolah berada.
c) Menganalisis
syarat dan ketentuan terhadap tenaga kerja.
d) Menginterprestasi
kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.[25]
Jadi keputusan akhir mengenai kurikulum itu
tergantung pada pengembangan kurikulum tempat mereka hidup, kemudian bagaimana
mereka berkreasi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai
golongan dalam masyarakat dan juga oleh falsafah hidup atau falsafah
pendidikannya.
[1]Armai arif, pengantar ilmu dan
metodologi pendidikan islam, (jakarta: ciputat press, 2002) h. 34
[2] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 39
[3] Ibid, h.
39
[4] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 60
[5] Ibid, h.
62
[6] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya;
Bandung; 1997) h.40
[7] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 63
[8] Ibid, h.
63
[9] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 45
[10] Drs. H.
Muhammad Ali, M. Pd., M. A, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Sinar
baru algensindo; Bandung; 2009) h. 21
[11] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 61
[12] Ibid h.
61
[13] Ibid h.
62
[14] Ibid h.
63
[15] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 88
[16] Ibid.
h. 89
[17] Ibid h.
90
[18] Ibid h.
92
[19]Abdul Rahman Saleh, Pendidikan
Agama Dan Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), 92
[20]Nik Haryati, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2011), 24
[21] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 93
[22] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h 67
[23] Ibid h.
68-69
[24]Nik haryati, pengembangan
kurikulum pendidikan agama islam........,46-47
[25]Syafrudin Nurdin, Guru
Profesinal Dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta, Ciputat Press, 2003), h. 38
Pembentukan kurikulum pendidikan
islam harus mengacu kepada arah realisasi individu dalam masyarakat, karena
dengan demikian semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan akan terjadi
dalam perkembangan masyarakat manusia harus mendapatkan tempat dalam kurikulum
pendidikan islam dengan kata lain manusia mampu mengambil peran dalam
masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.
Tugas kurikulum dalam perspektif islam diharapkan turut serta dalam proses
kemasyarakatan terhadap siswa, penyesuaian mereka dengan lingkungannya,
pengetahuan dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi
disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan dalam
suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda dengan masyarakat lainnya, karena
adanya perbedaan sistem sosial budaya lingkungan alam, serta sarana dan
prasarana yang ada. Kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan
kekayaan budaya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.[1]
PEMBAHASAN
LANDASAN-LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan
kurikulum pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau
merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan.
Berikut ini
akan dijelaskan mengenai landasa-landasan kurikulum.
A.
LANDASAN
FILOSOFIS
Secara harfiah filosofis (filsafat)
berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom).[2]
Sehingga dengan belajar Filsafat seseorang itu berharap agar bisa berbuat dan
berfikir secara bijak, namun dalam berfikir bijak haruslah memiliki ilmu
Pengetahuan.Berfilsafat diartikan sebagai pemikiran yang radikal, sampai pada ke
akar-akarnya. Secara akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan
menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam
semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.[3]Fillsafat
membahas segala masalah yang ada dalam kehidupan ini, baik masalah sosial, alam
dan termasuk juga pendidikan.
Filsafat pendidikan yang dikemukakan
oleh Romine adalah sesuatu yang sangat penting, karena mengandung keyakinan
yang berupa serangkaian cita-cita dan nilai-nilai yang sangat baik menurut
pandangan masyarakat.[4]
Dari pernyatan-pernyatan diatas, faktor –faktor yang harus
diperhatikan ketika merancang atau mengembangkan sebuah kurikulum untuk
mencapai tujuan pendidikan itu sendiri adalah dengan pandangan Filsafat, karena
cara berfikir Filsafat itu suatu pemikiran yang mendalam, yang bijak dan banyak
pertimbangan sehingga memperhatikan norma-norma sekitar. Disesuaikan dengan
kebutuhan pendidikan pada saat itu. Filsafat pendidikan bertujuan untuk
mengarahkan misi dari sekolah atau lembaga pendidikan, untuk mengembangkan
aturan-aturan yang harus dijalankan dalam proses pendidikan. Pendidikan
merupakan interaksi antar manusia. Yang melibatkan beberapa aspek yakni
pendidik, peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi
tersebut terlibat isi atau bagaimana proses pendidikan itu berlangsung. Salah
satunya adalah penetapan kurikulum. Filsafat adalah salah satu kunci dalam
penetapan atau perancangan kurikulum.
Dalam dunia pendidikan terdapat
falsafah pendidikan, pada umunya terdapat empat falsafah yaitu;
1.
Rekonstruksisme
Menurut Hilda Taba, John Dewey, rekonstruksisme mengikuti sebuah
alur, yang meyakini dan mengemukakan bahwa keberadaan sekolah adalah untuk
adanya perbaikan dalam masyarakat.
Theodore Brameld mengemukakan nilai-nilai rekonstruksisme, yaitu
banyaknya orang yang menginginkan hal-hal sebagai berikut;
·
Makanan
yang cukup
·
Pakaian
yang cukup
·
Perlindungan
dan kebebasan
·
Kebutuhan
seksual dan pelayanan
·
Jiwa
dan mental yang sehat
·
Rekan
kerja dan bisnis
·
Persahabatan,
saling setia dan kepribadian
·
Partisipasi
dan tukar pikiran serta
·
Pengertian,
perintah dan tujuan.
Beberapa pendidik setuju bahwa pemuda harus memiliki tantangan dan
masalah sosial, ekonomi dan politik, serta berusaha untuk mencapai mufakat
dalam mencari solusi. Tujuan utama dari falsafah ini adalah untuk menjadikan
sekolah sebagai agen utama dalam perubahan sosial.[5]
Dalam filsafat Dewey ini, kebenaran terletak pada perbuatan, yaitu adanya
persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.[6]
2.
Perenialisme
Perenialisme sekuler mendukung kurikulum sebuah akademi dengan tata
bahasa, kepandaian berbicara, logika, bahasa lama dan baru, matematika dan
peradaban dunia. menurut M. Hutchins pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan
yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran. Dan pendidikan yang disempurnakan
untuk kebutuhan yang mendesak, bukanlah
sebuah spendidikan ynag bermanfaat. Pendidikan ideal adalah sebuah pendidikan
yang ikut memperhatikan pengembangan pikiran.[7]
Jadi perenialisme ini lebih mengedepankan kepada pengembangan intelektual
individu itu sendiri, sehingga bisa dipergunakan untuk mengolah kemampuan yang
terdapat pada dirinya. Seperti kemampuan tata bahasa, tata bicara, kepandaian
bernalar dan kemampuan dalam memahami peradaban dunia.
3.
Esensialisme
Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk menyebarkan budaya.
Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sebaliknya
esensialisme menghindari hal tersebut.[8]
Esensialis menitik beratkan pada kemampuan mendaur ulang apa yang telah
dipelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan ditarget sebagai
persuapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja,
dan kehidupan.
4.
Progresif
Menyatakan bahwa anak harus memahami pengelaman pendidikan “di
sini” dan “sekarang”, mempunyai filosofi “pendidikan adalah hidup” dan “belajar
dengan melakukan”. Para progresivis mendorong sekolah agar menyediakan
pelajaran bagi setiap individu yang berbeda, baik dalam mental, fisik, emosi,
spiritual dan perbedaan sosial.
B.
LANDASAN
PSIKOLOGIS
Psikologis merupakan
karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam
berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku-prilaku
tersebut merupakan manifestasi dan ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak
maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif dan psikomotorik.[9]
Setiap individu memiliki
karekteristij psikologi yang berbeda antara individu yang satu dengan yang
lainnya. Hal itu disebabkan karena latar belakang sosial yang berbeda, tahap
perkembangan, faktor hereditas dan keturunan. Interaksi yang terjadi antara guru
dengan peserta didik harus disesuaikan dengan psikologis peserta didik.
Interaksi pendidikan yang terjadi di rumah berbeda dengan interaksi yang
terjadi disekolah. Interaksi antara guru dengan siswa SD, berbeda dengan
interaksi guru dengan siswa SMP, dan siswa SMA. Tergantung dari keadaan
psikologis dari peserta didik tersebut.Guru dalam proses pendidikan harus
optimal dalam mendidik peserta didik. Tanpa pendidikan disekolah sebenarnya
anak akan tetap bisa berkembang, namun berbeda ketika pendidikannya dalam
jenjang sekolah, anak lebih berwawasan luas dan tahap perkembangannya menjadi
lebih tinggi. Karena ketika berada disekolah seorang guru harus benar-benar
melakukan interaksi pengajaran sesuai dengan keadaan psikologis pesrta didik.
Ada dua bidang psikologi yang
menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum yakni Psikologi Perkembangan dan Psikologi
Belajar.
1.
Psikologi
Perkembangan
Psikologi Perkembangan membahas tentang perkembangan individu sejak
masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai pada
dewasa.
Dalam pengembangan kurikulum salah satu yang mendasari adalah
Psikologi Perkembangan.Yang mana sejak peserta didik mengenyam pendidikan
disekolah. Ada dua pendekatan dalam hal ini
·
Pendekatan
yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan fisik dan gerakan
motorik, sosial, intelektual, moral, religi, emosional dan sebagainya.
·
Pedekatan
khusus yang hanya mencakup satu aspek perkembangan saja.
2.
Psikologi
Belajar
Bidang kajian Psikologi Belajar ini mencakup perkembangan atau
kemajuan-kemajuan yang dialami anak. Sebagian besar terjadi karena usaha
belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan,
pemahaman, penerapan maupun pemecahan masalah. Pendidik atau guru melakukan
beberapa upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan dukungan berbagai alat
bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar mengajar mana yang dapat
memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses pelaksanaannya
membutuhkan studi yang sistematik dan mendalam.
Sangat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
Dari segi proses belajar mengajar, misalnya suatu metode yang dipandang cocok
bagi sekelompok individu siswa, belum tentu cocok bagi kelompok lain. Demikian
pula, suatu metode yang digunakan oleh seorang guru, mungkin dapat efektif,
tetapi di tangan guru lain menjadi tidak efektif.[10]
C.
LANDASAN
SOSIAL BUDAYA, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
a.
Perkembangan Masyarakat
Salah satu cri
masyarakat adalah selalu berkembang. Perekembangan suatu masyarakat tidak sama
ada yang cepat ada yang lamban, tergantung dari pengaruh perkembangan teknologi,
terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi telekomunikasi, dan
elektronik. Dewasa ini beberapa masyarakat di suatu daerah mayoritas berkembang
sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global.[11]
Dampak dari
keadaan masyarakat yang demikian, membawa perubahan besar bagi, mobilitas
manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar dan akurat. Perubahan-perubahan
yang seperti ini mempengaruhi pengetahuan, kecakapan sikap, aspirasi, minat,
semangat, kebiasaan bahkan pola hidup mereka.
1.
Perubahan
pola pekerjaaan
Pengaruh dari semakin berkembangnya IPTEK( Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi), membawa dampak bagi pola hidup masyarakat dalam bekerja, seperti
yang asalnya berpola agraris, yakni pola hidup yang santai, teratur, memiliki
toleran yang tinggi, perubahan yang lamban dan sebagainya. Berubah menjadi pola
hidup industri, yakni penerapan teknologi dalam mayoritas bidang pekerjaan,
karena adanya teknologi maka bidang pekerjaan yang bergerak dibidang industri
lebih maju dari pada bidang pertanian. Dan menuntut profesionalisme yang tinggi
pula. Kelebihan bidang industri ini antara lain yakni, bekerja tidak lagi
bergantung pada musim. Baik musim hujan, kemarau atau panas. Kita bisa bekerja
sepanjang masa, bahkan bekerja siang dan malam tanpa henti.[12]
2.
Perubahan
peranan wanita
Seiring dengan
berkembangnya zaman, dahulu seorang wanita yang hanya duduk dirumah, mengurusi
suami, anak dan rumahnya. Namun hal itu sudah sangatlah jarang, seorang wanita
yang berpendidikan mempunyai tingkat sejajar dengan seorang laki-laki dalam
bidang pekerjaan. Wanita bisa berkarya, berekspresi sesuai dengan skill yang
mereka miliki.
Dalam keadaan yang demikian, ada beberapa hal yang menjadi kendala;
·
Beban
tanggung jawab yang ia emban semakin bertambah, selain mengurusi rumah tangga
ia juga harus berkarir. Sehingga membutuhkan tenaga yang ekstra dalam menjalani
aktifitas sehari-hari. Bisa jadi salah satunya akan terbengkalai.
·
Namun
berkaitan dengan kehidupan kelurga. Meskipun setinggi apapun tingkat pendidikan
seorang wanita. Ia harus mengurusi rumah tangganya, karena jika hanya konsen
pada karir. Rumah tangganya akan terbengkalai. Pendidikan anak menjadi tidak
maksimal, perhatiannya terpecah dan sebagainya.
·
Kemudian
situasi pekerjaan. Pekerjaan atau karir bukan tempat beristirahat namun tetap
berkarya, berekspresi dan berprestasi. Situasi yang demikian ini, menuntut
untuk seorang pegawai harus bekerja secara optimal. Namun jika seorang wanita
sudah berkelurga, maka dalam pekerjaannya kurang maksimal. Berbeda ketika ia
masih belum mempunyai tanggungan untuk mengurusi keluarga, maka dalam berkarir
ia akan optimal.
3.
Perubahan
kehidupan keluarga
Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan
masyarakat. [13]Seorang
suami dan istri yang sama-sama bekerja dibidang industri, membutuhkan waktu
yang melebihi batas kerja pada umumnya. Yang biasanya bekerja sampai pukul
14.00, namun bisa saja smpai pukul 23.00. Bahkan yang biasanya hari Minggu
digunakan sebagai hari libur bersama keluarga. Terkadang masih saja dibuat
bekerja, sehingga waktu untuk berkumpul bersama keluarga tidak ada. Itulah salah satu faktor yang
menyebabkan, kurang harmonisnya sebuah keluarga. Antara suami, istri, dan anak
komunikasinya tidak lancar, bahkan mungkin anak lebih sering berkumpul dengan
pembantu Rumah Tangga, dari pada dengan orang tua mereka yang bekerja tanpa
hentinya. Dampak dalam segi Ekonomis memang seimbang dengan hasil kerja keras,
namun dampak keharmonisan keluarga yang akan terancam.[14]
b.
Pendidikan
Dalam masyarakat, unsur pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal
yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Pendidikan adalah aktivitas
dari kebudayaan dan merupakan aktivitas pembudayaan, di sisi lain kebudayaan
menjelmakan aktivitas, sistem, dan struktur pendidikan. Oleh karena itu, baik
masyarakat tradisonal maupun modern selalu mengandung unsur pendidikan yang
berusaha memperkenalkan dan membawa masyarakat ke arah kebudayaannya.
Pendidikan menjadi suatu instrumen untuk mentransmisikan kebudayaan pada
masyarakat dan generasi baru. Selain itu, pendidikan juga bersifat menggenarasi
baru. Selain itu, pendidikan juga bersifatmengawetkan kebudayaan, sehingga
mencetak generasi-generasi muda yang memiliki budaya/kental akan budaya.[15]
Dapat dikatakan bahwa, pendidikan merupakan jembatan dalam
pencapaian menjadi masyarakat yang berbudaya. Seperti yang kita ketahui bahwa,
dewasa ini masyarakat Indonesia mayoritas mengikuti budaya barat. Dan itu
biasanya terjadi dikalangan masyarakat yang memiliki ekonomi menengah keatas.
Disinilah fungsi pendidikan itu dijalankan, pendidikan harus bisa mengantarkan
generasi muda nenuju budaya yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tidak
mengimitasi budaya orang yang memang bertolak belakang dengan budaya kita.
c.
Politik
Setiap
masyarakat, baik modern maupun primitif, sangat membutuhkan adanya institusi
politik. Perbedannya, terletak dalam landasan dan pelaksanaannya. Dimensi
politik adalah dimensi kelakuan politik masyarakat tertentu yang mengarahkan,
mengatur dan mengontrol perbuatan manusia dalam masyarakat tersebut. proses
politisasi masyarakat tersebut merupakan ekspresi masyarakat itu sendiri, dan
sistem politik yang dianut oleh masyarakat tersebut akan mempengaruhi kehidupan
berbudaya masyarakat yang bersangkutan.[16]
Ada hal yang perlu kita garis bawahi dalam pernyataan diatas bahwa.
Perbedaan politik terletak pada landasan dan pelaksanaanya, salah satu hasil
pencetusan politik adalah terciptanya pancasila sebagai dasar negara, namun
yang menjadi pertanyaan di benak kita masing-masing adalah, tentang
pelaksanaannya. Kita laksanakan sesuai dengan aturan aturan yang dibenarkan
oleh agama. Atau dalam pelaksanaanya kita halalkan segala cara. Inilah fungsi
dar kurikulum untuk menuju tujuan pendidikan yang dicita-citakan yakni politik
yang bersih.
d.
Ekonomi
Kehidupan ekonomi pada dasarnya berpangkal pada kegiatan produksi,
distribusi dan konsumsi. Kehidupan ekonomi yang baik ialah sistem ekonomi yang
dipergunakan bagi masyarakat luas. Oleh karenanya, masalah ekonomi tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sosial, fungsional dan struktural.[17]
Manusia dalam proses kehidupan tak lepas
dari ekonomi. Semakin tinggi tingkat kebutuhan, maka semakin tinggi pula
tingkat perekonomian yang harus diperoleh dan dicapai, dalam kehidupan yang
serba modern ini, sangat diperlukan ekonomi yang memadai. Oleh karenanya dalam
bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari maka diperlukan kerja keras. Dan dalam
pencapaian pekerjaan yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka diperlukan
pendidikan sebagai alat untuk proses
pencapaian itu.
e.
Agama
Dari sudut kebudayaan, agam memberikan konsep tersusun tentang
apa-apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, hal yang menghilangkan
kecemasan manusia yang timbul karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan manusia
menyelami apa-apa yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin
dapat memahami masyarakat tanpa memahami keyakinan beragamanya (Maurice Boyd,
1968)[18]
Seluruh sistem di masyarakat termasuk sistem pendidikan, harus
menempatkan tujuan dan kurikulam pada agama islam atau syariat islam. Yang
berkaitan dengan akidah, ibadat, muamalat dan hubungan-hubungan di masyarakat.
Dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam seluruh tingkatan pendidikan secara umum memiliki tujuan yang
sama yaitu untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sehingga
setelah proses pendidikan berakhir peserta didik bisa mengamalkan dalam
kehidupan pribadi, berbangsa dan bernegara.[19]
Kurikulum yang berdasarkan pada agama
islam haruslah bertujuan untuk membina iman yang kuat kepada allah, rasul,
malaikat, kitab-kitab, qadha qadar, dan hari akhir. Dan juga melengkapinya
dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Karena islam tidak
membatasi mempelajari ilmu apapun, selagi ilmu tersebut berguna dan berlaku dalam
akidah dan akhlak.[20]
f.
Teknologi
Teknologi
adalah hasil produksi dari kebud`yaan dan menjadi kebudayaan. Dapat juga
dikatakan bahwa teknologi adalah aspek materil dari kebudayaan. Teknologi
merupakan alat atau benda-benda yang diperlukan oleh masyarakat untuk memenuhi
kebutuhannya. Ada pula yang mengatakan bahwa kemajuan teknologi justru menandai
kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa.[21]
Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang,
memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindera, dan otak
manusia.[22]
Perkembangan yang begitu cepat dewasa ini adalah perkembangan
teknologi transportasi, teknologi komunikasi, informatika, serta teknologi
media cetak. Perekembangan teknologi
industri transportasi berkembang pesat, baik transportasi darat, laut maupun
udara.
Temuan-temuan di bidang Fisika, kimia dan matematika mengembangkan
teknologi ruang angkasa dan kemiliteran. Perkembangan teknologi di bidang kemiliteran
bukan hanya menghasilkan teknologi senjata-senjata biasa, juga teknologi
senjata mutakhir.
Teknologi yang juga berkembang pada dekade terakhir ini adalah
teknologi komunikasi, informatika, telekomunikasi. Teknologi ini berkembang
sangat pesat berkat temuan-temuan dibidang elektronika. Perekembangan radio
televisi, handphone, komputer dan lain sebagainya, telah membuka bagian
bagian-bagian dunia yang terbelakang menjadi daerah terbuka karena arus
informasi, dan bisa dikatakan menjadi daerah modern.[23]
Indonesia, seperti negere-negara yang sedang berkembang lainnya,
telah membuka pintu masuknya teknologi modern, baik yang datang dari barat
maupun datang dari timur. Meskipun demikian, terdapat juga kewaspadaan
tertentu, dalam artian penerapan teknologi yang baru tersebut senantiasa dicoba
dikaitkan dengan situasi dan kebutuhan serta nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat. Masuknya teknologi baru sering kali menyebabkan gangguan, atau
munculnya berbagai aspek negatif yang menimbulkan permasalahan sosial baru yang
tidak diharapkan. Apakah teknologi modern kelak akan menguasai kehidupan
masyarakat kita serta mengganggu keseimbangan kurtural dalam masyarakat
nantinya.
Adapun
beberapa fungsi sistem pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan bagi
kepentingan masyarakat dari segi sosiologisnya
antara lain:
a. Mengadakan
perbaikan bahkan perombakan sosial.
b. Mempertahankan
kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah.
c. Mendukung
dan turut memberi sumbangan kepada pembanguna nasional.
d. Menyampaikan
kebudayaan dan nilai-nilai tradisional.
e. Mengarahkan
dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda.
f. Mendorong
dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g. Mendidik
generasi muda menjadi warga negara nasional dan warga dunia.
h. Mengajarkan
keterampilan pokok seperti membaca, menulis dan berhitung.
i.
Memberikan
keterampilan dasar bertalian dengan mata pencaharian.[24]
Dan
masih banyak lagi faktor-faktor lain dalam masyarakat yang turut memberi
tekanan tentang apa yang arus dimasukan ke dalam kurikulum. Berikut adalah
faktor yang menentukannya:
a) Interaksi
yang kompleks antara kekuatan-kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer,
industri, dan kultural dalam masyarakat.
b) Kekuatan
tersebut di atas yang dominan di bagian dunia lainnya yang erat hubungannya
dengan negara bersangkutan.
c) Pribadi
pimpinan serta tokoh-tokoh yang memegang peran kekuasaan formal dan informal di
berbagai lampiran masyarakat.
KESIMPULAN
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kita ketahui bahwa pendidikan mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke
lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan tetapi
memberikan bekal pengetahuan keterampilan sera nilai-nilai untuk hidup, bekerja
dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari
masyarakat mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan
masyarakat. Masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi
landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan kita tidak membutuhkan manusia yang asing dan
lain. Tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan dapat mencetak masyarakat yang
bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu tujuan,
isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik,
kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.
a) Mempelajari
dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang,
peraturan, dan keputusan masyarakat.
b) Menganalisis
masyarakat tempat sekolah berada.
c) Menganalisis
syarat dan ketentuan terhadap tenaga kerja.
d) Menginterprestasi
kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.[25]
Jadi keputusan akhir mengenai kurikulum itu
tergantung pada pengembangan kurikulum tempat mereka hidup, kemudian bagaimana
mereka berkreasi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai
golongan dalam masyarakat dan juga oleh falsafah hidup atau falsafah
pendidikannya.
[1]Armai arif, pengantar ilmu dan
metodologi pendidikan islam, (jakarta: ciputat press, 2002) h. 34
[2] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 39
[3] Ibid, h.
39
[4] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 60
[5] Ibid, h.
62
[6] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja Sodakarya;
Bandung; 1997) h.40
[7] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 63
[8] Ibid, h.
63
[9] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 45
[10] Drs. H.
Muhammad Ali, M. Pd., M. A, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Sinar
baru algensindo; Bandung; 2009) h. 21
[11] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h. 61
[12] Ibid h.
61
[13] Ibid h.
62
[14] Ibid h.
63
[15] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 88
[16] Ibid.
h. 89
[17] Ibid h.
90
[18] Ibid h.
92
[19]Abdul Rahman Saleh, Pendidikan
Agama Dan Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: Rajawali Press, 2005), 92
[20]Nik Haryati, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2011), 24
[21] Prof.
Dr. H. Oemar Hamalik, dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Rosdakarya; Bandung; 2007) h. 93
[22] Prof.
DR. Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (PT Remaja
Sodakarya; Bandung; 1997) h 67
[23] Ibid h.
68-69
[24]Nik haryati, pengembangan
kurikulum pendidikan agama islam........,46-47
[25]Syafrudin Nurdin, Guru
Profesinal Dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta, Ciputat Press, 2003), h. 38
Langganan:
Postingan (Atom)


